Photo Udara Pulau Hanaut dan Samuda

Betapa indah Pulau Hanaut dan sekitarnya dilihat dari udara, tapi jika disurvey dan jalan-jalan mengasyikan juga...
Penasaran..., datang dan nikmati alam dan sungainya.

Photo Udara Desa Bapinang Hulu Kecamatan Pulau Hanaut

Desa Bapinang Hulu adalah ibu kota Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kal-Teng. Luas Wilayah Bapinang Hulu adalah 86,5 KM2 (: kantor desa). Penduduknya berjumlah 710 KK atau sebanyak 2.679 orang, yang terbagi dalam 1.267 perempuan dan 1.412 Laki-laki (data 2008). Luas lahan perkebunan yang dikelola oleh masyarakat adalah 1.470 Ha, sedangkan luas lahan pertanian yang dikelola masyarakat adalah 530 Ha.
Penghasilan ekonomi tertinggi di desa ini adalah Karet, Buah-buahan, Kelapa dan Rotan.
Dalam photo ini terlihat hamparan kebun karet dan kelapa, termasuk juga latar pulau hanaut dan Samuda yang menjadi batas wilayah desanya.

Photo Udara Pulau Hanaut dan Pulau Lepeh

Pulau Hanaut dan Pulau Lepeh adalah dataran tanah yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mentaya. Terletak di Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kal-Teng.
Secara survey darat, di Pulau Hanaut terdapat pabrik pengolahan Kopra (Minyak Kelapa) dan Pulau Lepeh tidak ada penghuninya.
Dilihat dari udara, wilayah ini sangat indah meski tidak ada hutan lebat.

Bersama Kelompok Gambut Lestari Di Bapinang Hulu

Secara singkat, Kelompok Gambut Lestari adalah sekumpulan warga Kp. Panyahu, Desa Bapinang Hulu yang beraktifitas dalam restorasi lahan Gambut di Kecamatan Pulau Hanaut.
Dalam praktiknya, kelompok tersebut masuk dalam MPM-REDD (Masyarakat Penerima Manfaat) dalam Program Percontohan Pemulihan Lahan Gambut (P2LG) yang bekerjasama dengan Yayasan Puter Indonesia dalam durasi September 2009 - Juli 2010.
Aktifitas atau kegiatan yang dilakukan adalah menghijaukan kembali lahan gersang yang ada di Kerokan Hantipan Desa Bapinang Hilir Laut dan berkoordinasi dengan Kepala Desanya yaitu Bapak H. Ramli.
Dalam Photo ini adalah penutupan kegiatan MPM REDD dalam Program P2LG dengan membagikan SKT (Surat Keterangan Tanah).

Sejarah Kota Samuda

Sejarah Kota Samuda

Meskipun hampir setiap orang Samuda tahu apa itu Samuda secara harfiah, namun tidak seorangpun yang bisa dengan sempurna menjelaskan tentang apa dan bagaimana Samuda itu baik secara geografis maupun secara administratif. Jika Samuda diinterpretasikan sebagai sebuah kecamatan, maka secara geografis maupun administratif wilayah Samuda tidak lain adalah wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan sekarang ini, karena cikal bakal Samuda itu sendiri lahir dari sebuah wilayah yang sekarang dikenal dengan Basirih Hilir

Dilain pihak, masyarakat sangat sering mendengar atau membicarakan tentang “Pahlawan Samuda atau Pejuang Samuda”, “Kelapa Samuda”, bahkan sekarang sangat terkenal dengan “Walet Samuda” yang merupakan salah satu kualitas Sarang Walet tertinggii didunia.

Kronologis histories yang mengiringi terbentuknya serta keberadaan Kota Samuda itu sendiri memiliki keunikan tersendiri sehingga membuat istilah “Samuda” menjadi sangat unik.

Perkampungan Tertua Di Samuda

Sebenarnya ada beberapa pendapat atau “kesimpulan” tentang dimana letak perkampungan tertua di Samuda, hal ini dikarenakan setiap pendapat atau kesimpulan tersebut diambil terbatas hanya dari sudut pandang maupun latar belakang masing-masing tanpa menyetakan “argumen-argumen” atau bukti-bukti yang relevan.

Berdasarkan beberapa fakta sejarah maupun penuturan tokoh-tokoh masyarakat Samuda, perkampungan tertua diwilayah muara sungai Mentaya terletak didesa Basirih Hulu, yang dulunya hanya dikenal dengan nama Basirih. Nama Basirih diberikan oleh para pendatang yang memang kebanyakan berasal dari Kampung Basirih dan Alalak, yaitu perkampungan yang terletak didaerah muara sungai Barito Kalimantan Selatan.

Para pendatang dari Basirih dan Alalak yang pada awalnya hanya melakukan usaha perdagangan dengan masyarakat Dayak dipedalaman sungai Mentaya diperkirakan mulai bermukim diwilayah muara sungai Mentaya sekitar tahun 1750-an. Daerah Basirih dipilih karena memiliki kondisi tanah yang dianggap cocok untuk dijadikan pemukiman. Beberapa tahun kemudian para pendatang tersebut juga membentuk pemukiman baru didaerah anak sungai bagian muara yang sekarang dikenal dengan nama Sungai Ijum, Samuda Besar dan Samuda kecil. Sedangkan sebagian ada yang membuka pemukiman didaerah “seberang” yang kemudian dikenal dengan nama “Bapinang”.

Munculnya Sebutan Samuda

Karena semakin banyak pendatang, baik dari daerah Kerajaan Banjar maupun para pedagang dari pulau lain seperti Sulawesi dan Jawa, maka seperempat abad kemudian atau sekitar tahun 1775, wilayah pemukiman pun semakin meluas sehingga terbentuk sebuah pemukiman baru yang terbentang dari muara anak sungai Jejangkit hingga kearah hilir sungai Mentaya sampai didaerah muara sungai Sapihan. Dan dengan terbentuknya pemukiman baru tersebut, masyarakat Dayak, yang merupakan penduduk asli yang kebanyakan bermukim didaerah-daerah bagian hulu sungai Mentaya, menamakannya “Lebu Taheta” atau “Lewu Taheta” yang berarti “kampung yang baru terbentuk” , dan oleh para pendatang dari daerah Kalimantan Selatan atau Kerajaan Banjar menyebutnya “Kampung Baru” .

Mengingat letaknya yang strategis, Kampung Baru kemudian berkembang menjadi daerah pertemuan antara berbagai macam pedagang, baik para pedagang yang berasal dari wilayah Kerajaan Banjar (Banjarmasin) dan Sulawesi yang membawa Beras, Gula Ikan Asin dan produk rumah tangga, maupun masyarakat lokal yang berasal dari “seberang” (Bapinang) dan daerah anak sungai lainya (Sungai Ijum, Samuda Besar dan Samuda Kecil) yang menjual hasil perkebunan seperti Kelapa, Buah-buahan, sayur-sayuran dan ikan sungai. Dan karena ramainya transaksi perdagangan yang dilakukan di wilayah Kampung Baru tersebut dimana berbagai barang kebutuhan masyarakat pada waktu itu bisa didapatkan, mulai dari berbagai hasil perkebunan, bahan-bahan pokok hingga peralatan rumah tangga, maka masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “Kampung Semua Ada”, dan sebutan Kampung Baru lambat laun akhirnya tidak digunakan lagi.

Karena penyebutan kata “Semua Ada” tersebut dari waktu kewaktu dan dari mulut kemulut sangat sering diucapkan serta mengalami perubahan “dialektika” atau dalam cara pengucapannya, yang diikuti pula dengan pergeseran makna dari hanya sekedar “ungkapan” menjadi sebuah “sebutan”, maka kata “Semua Ada” akhirnya diucapkan hanya dengan satu suku kata yaitu “Semuda” atau “Samuda”.

Dalam perkembangannya kemudian, secara geografis makna penyebutan “Samuda” tidak lagi hanya ditujukan terhadap sebatas daerah pemukiman yang tadinya dikenal dengan sebutan “Kampung Baru”, namun bagi masyarakat daerah luar, baik masyarakat Sampit dan masyarakat dari daerah Hulu sungai Mentaya, maupun masyarakat luar lainnya seperti Banjarmasin dan Pulau Jawa, sebutan “Samuda” dimaksudkan terhadap daerah pemukiman yang berada diwilayah pesisir dan muara sungai Mentaya yang berarti meliputi daerah Kalap, Ujung Pandaran dan Bapinang, hingga kedaerah utara yang meliputi daerah Sungai Sampit dan Lenggana, dan sebutan “Masyarakat Samuda” adalah sebutan terhadap masyarakat yang bermukim dari wilayah muara sungai Mentaya hingga di pedalaman Sungai Sampit.

Dikutip dari sebuah blog pemerhati Kota Sampit dan sekitarnya.

Tulisan ini berupa Dialog Perjuangan “Peran Pejuang Samuda Dalam Pergerakan Kemerdekaan di Kalimantan”, 10 November 2009 di Sampit.

Bersama Warga Bapinang Hulu di Pantai Ujung Pandaran Teluk Sampit

Sebuah photo bersama warga Bapinang Hulu bulan Juli 2010 yang menjadi kenangan bersama.

Terusiknya kehidupan Orang Utan

Orang Utan namanya. Menjadi trade mark Kalimantan karena saking banyaknya hidup di hutan-hutan. Namun kini, keberadaannya terusik oleh derap pembangunan khususnya pembukaan hutan untuk mencari kayu atau menjadi perkebunan.
Terusik juga kehidupannya, dan kadang beberapa berita mengabarkan, Orang Utan terpaksa di bunuh karena kegiatan itu dan semakin berkuranglah jumlahnya.

Kapal pengangkut Kopra yang pernah jaya di masanya, Kini....

Kapal motor Kayu pengangkut Kopra ini pernah jaya dan berlabuh di Sulawesi, NTB dan Jawa, namun kini sudah teronggok dan hancur di dekat pabrik Kopra Pulau Hanaut.












Propinsi Kal-Teng dan Kab. Kotim sedang Pesta Demokrasi

Kal-Teng dan Kotim sedang pesta demokrasi. Hari Sabtu, 5 Juni 2010 se- Kalimantan Tengah akan memilih 4 Calon Gubernur, sedangkan untuk Kabupaten Kotawaringin Timur akan memilih 7 Calon Bupati. Jadi, dalam satu hari itu akan ada 2 kali pencoblosan hanya untuk Kab. Kotim saja, 1 untuk Calon Gubernur dan 1 lagi untuk Calon Bupatinya.
Selamat Pilkada, semoga aman dan sukses.

Kerjasama Yang Baik....

Setiap habis pulang sekolah, anak-anak Sanggar Calistung selalu bersenda gurau di halaman sanggar. Sambil menunggu waktu untuk sekolah bebas di Sanggar Calistung pada pukul 16,00 WIB, anak-anak selain bergurau juga menyempatkan diri untuk saling melihat keadaan kepala dan rambutnya masing-masing, apakah ada si raja gatal ? tapi senangnya mereka selalu bekerja sama yang baik dan saling bergantian...

Air Pasang Daerah Aliran S. Mentaya

Air Pasang S. Mentaya terjadi ketika pergantian bulan di langit (tahun Islam) beranjak dari tanggal 11 -18. Menurut warga di sekitarnya kejadian ini merupakan hal biasa yang berulang-ulang. Keuntungan dan kerugian selalu ada, yaitu salah satunya adalah air pasang ini sangat menguntungkan untuk mandi dan sebagainya, sedangkan yang merugikan adalah berserakannya sampah disekitar rumah mereka. Oh....

Belajar mengenal lingkungan di wilayah aliran S. Mentaya

Pengenalan lingkungan di desa dan sekitarnya merupakan hal penting dipelajari sejak dini. Mereka setidaknya akan menjadi penerus Desanya. Apa yang mereka lihat ditulis dan akan dibandingkan dengan waktu 5 tahun berikutnya. Apakah ada perbedaan atau tetapbegitu adanya ? yah... hanya anak-anak yang bisa menjawabnya kelak.

Jujuran (melamar khas banjar)

Dalam proses menuju pernikahan, sebelumnya dilakukan tahapan melamar (jujuran : Banjar). Tahapan melamar ini secara budaya di Bapinang adalah mengantar uang untuk acara pernikahan serta bibit pohon kelapa, pohon pandan dan pohon salak dihias sedemikian rupa. Dan di pihak perempuan pun sama menyiapkan pohon yang sama untuk ditukar, sedangkan jumlah uang jika laki-laki menyumbang 7 juta, pihak perempuan jika menerima berarti menyiapkan uang 7 ribu. Dan uang 7 ribu beserta pohonnya menjadi rebutan ketika si perempuan memungut uang 7 juta yang akan dimasukkan kedalam kantong jujuran. Ramai juga ketika ada rebutan, dan pohon harus ditanam sedangkan uang 7 ribu rebutan tidak boleh dijajankan. Setelah proses tahapan tersebut selesai, baru ada perundingan penetapan hari-H pernikahan. Alot juga, karena penuh dengan perhitungan yang matang.

Maulud Nabi Muhammad SAW

Masih kental budaya keagamaan di daerah Bapinang. Setiap hari raya atau hari besar Islam selalu diperingati baik oleh bapak-bapak, ibu-ibu maupun pemuda dan pemudi. Acara sunnah Rasul mengoleskan minyak wangi kepada para peserta mauludan dilakukan oleh tuan rumah selaku penyelenggara acara ini. Tak lama setelah melakukan pengolesan, seantero rumah menjadi harum semerbak dan menjadi segar.....

Budaya Pernikahan di Bapinang...

Diiringi piring terbang (rebana) dan payung obor-obor kemanten atau semua di atas di sebut Hadrah, penganten laki-laki siap di sambut oleh gerak pencak silat khas Banjar, dan setelahnya dengan melalui lawang sekiping dua insan manusia yang menuju mahligai pernikahan saling pandang memandang dengan penuh senyum....
Selamat Berbahagia....

Kumpulan Jembatan Kayu Rusak...









om... bila jembatan ni di perbaiki ?
mungkin hari senin de...
entah senin besok, senin depan atau senin tahun depan....



Lokasi di Desa Babirah dan Desa Bapinang Hilir Laut, Pulau Hanaut, Kotim

Sketsa Mandau Asli...




Pengaruh Agamanya kuat di sekitar Bapinang....

Namanya : KH. Abdul Gani (Alm) dari Pasantren di Martapura Banjar.
Pengaruh agamanya kuat sekali dan sering di datangi oleh para pengikutnya untuk mendo'akan di makamnya.
Dan jika anda kebetulan mampir di salah satu rumah daerah Sampit, Samuda, Kuala Pembuang dan Bapinang sekitarnya yang memeluk agama Islam, Insya Allah akan melihat photo gambarnya dengan segala bentuk dan rupa menempel dan menggantung di salah satu dinding rumah.

Sepatu dan Sandal merk AP cocok digunakan di lahan Basah dan Bergambut





Sepatu dan Sandal berbahan dasar karet merk AP sangat cocok digunakan di lahan berair dan bergambut. Lentur, mudah kering, ringan dan cukup murah harganya.
Ini bukan iklan, akan tetapi telah dibuktikan di wilayah yang berair dan bergambut di Kalimantan Tengah. Tapi kalau lecet-lecet sedikit di kaki adalah hal yang wajar karena kelenturannya lho..., selamat mencoba.