Tampilkan postingan dengan label Produk Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Produk Lokal. Tampilkan semua postingan

Sahabat Alam

Sahabat Alam merupakan sebuah nama dari kelompok pengrajin rotan dan purun yang berada di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Dalam cita-citanya, kelompok ini melakukan aksi dengan mempertahankan sumber daya alam rotan dan purun untuk alternatif peningkatan ekonomi warga.

Papan Nama Sahabat Alam di Desa Terantang
 Dalam kegiatannya, kelompok Sahabat Alam sudah mengeksport keranjang rotan ke Inggris serta melatih dan belajar bersama tentang kerajinan rotan dan purun dengan desa-desa tetangga. 

Keranjang Rotan Siap Eksport ke Inggris

Keranjang Rotan masuk Kontainer
Dalam promosinya, kelompok Sahabat Alam berani menyampaikan aspirasinya kepada Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Timur untuk mengenalkan produksi kelompok rotan yang bisa dipasarkan untuk lokal ataupun daerah lain.

Pengenalan kepada Bupati Kotawaringin Timur


Ketika Rotan dari Desa Terantang Sepi Pembeli...

Menurut pengusaha rotan di desa Terantang, H. Tarjo, pasca lebaran 2015 ini dunia rotan di Kotim mengalami penurunan tajam dalam harga, yang lebih parah lagi setelah murah harganya ech pembelinya tidak ada.
Menurut informasi yang didapat, rotan murah dan sepi pembeli salah satunya adalah banyaknya atau "banjir" rotan di negara China.

Pengusaha Rotan dari Desa Terantang, H. Tarjo
Rotan di Terantang dari tahun ke tahun ibarat pasang-surut sungai Mentaya, pasang (naik harga) sebentar, namun surutnya (turun harga) setiap saat.


Kapal Pengangkut Rotan khas Desa Terantang

Peran pemerintah dalam menjaga keberadaan rotan ini sangat diharapkan, karena tanpa niat baiknya, perekonomian di desa ini bisa mengganggu ketergantungan hidupnya. Dan yang lebih tragis lagi, mau diapakan kebun rotannya.

Kelompok Ibu-ibu Peruntih Rotan
Hampir 65 % ibu-ibu di Desa Terantang, dalam membantu ekonomi keluarganya adalah bekerja dalam dunia Rotan.

Istirahatnya Ibu-Ibu Meruntih Rotan

Sampit Expo 2015 : Kerajinan Rotan Sampit

Sampit Expo adalah sebuah kegiatan yang dihelat setiap tahun yang menyajikan berbagai produk tradisional, produk lokal, produk terkini dan arena hiburan permainan. 
Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur pada tanggal 25 April s/d 3 Mei 2015, bertempat di taman stadion 29 Nopember, Kota Sampit.

Sampit Expo 2015
Pengunjung Stand Kerajinan Rotan
Pengunjung Stand Kerajinan Rotan2
Pak Mugeni, Pengrajin Rotan dari desa Terantang

Keranjang Rotan Teger Asli Buatan Desa Terantang, Seranau, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah


Keranjang Rotan 1
Keranjang Rotan 2

Pegangan Keranjang Rotan

Kelompok Ibu-ibu Pengrajin Keranjang Rotan

Kelompok Bapak-bapak Pengrajin Rotan

Kerajinan Rotan Warga Desa Terantang, Seranau, Kotawaringin Timur, Kal-Teng

Tempat Beras dari Rotan
Tampak Atas Tudung Saji
Tampak Bawah Keranjang Beras
Tampak Dalam Tudung Saji
Tudung Saji Rotan
Tampak Bawah Keranjang Sampah

PT. Rimba Makmur Utama (RMU) Bekerjasama dengan Mahasiswi MIPA-Kimia Unjani Cimahi Melakukan Penelitian Minyak Kelapa dan Getah Jelutung di Kecamatan Pulau Hanaut

Pada medio bulan Juni 2014, 2 (dua) Mahasiswi Cimahi melakukan penelitian mengenai Minyak Kelapa (Minyak Lala)  dan getah Jelutung di desa Bamadu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kal-Teng. Penelitian ini diinisiasi oleh PT. Rimba Makmur Utama (RMU) atas dasar informasi mengenai penurunan tingkat pemakaian minyak kelapa di wilayah Pulau Hanaut yang merupakan sumber daya alam terbesarnya adalah kelapa yang melimpah serta tidak laku jualnya getah jelutung di pasaran yang menurunkan tingkat ekonomi sebagian besar warga desa Bamadu yang menggantungkan ekonomi untuk keluarganya pada sumber daya alam getah jelutung.

   
                                                                                       
proses pembuatan minyak kelapa
Informasi yang didapat dari lapangan serta diskusi dengan kelompok Ibu-ibu di desa Bamadu, penurunan tingkat pemakaian minyak kelapa ini lebih banyak disebabkan oleh berkurangnya pembuat minyak kelapa. Berkurangnya pembuat minyak kelapa ini lebih disebabkan oleh tidak berimbangnya harga jual (harga kelapa, operasional pembuatan dan pemasaran) dan lebih praktis membeli minyak sawit yang setiap hari siap menanti.
Dalam hal ini, ibu-ibu mengharapkan adanya sebuah terobosan yang bisa mempermudah dalam pemerosesan minyak lala dan segi pemasaran yang adil sehingga bisa menjadikan nilai tambah untuk peningkatan ekonomi  keluarga.
 
                                                        
 
Penelitian Getah Jelutung di Hutan Kecamatan Pulau Hanaut
Pada penelitian getah jelutung di hutan Kecamatan Pulau Hanaut, dengan dibantu oleh pemantung (pencari getah jelutung) dari desa Bamadu, didapat informasi bahwa dengan tidak laku jualnya getah jelutung menjadi pukulan terberat untuk kehidupan sebagian warga desanya yang menggantungkan hidupnya pada getah jelutung. Pukulan terberat sangat dirasakan oleh pemantung yang tidak mempunyai alternatif pekerjaan lain serta tidak punya kebun untuk kehidupan mereka.
Potensi getah jelutung di Pulau Hanaut sangat besar dan entah kenapa tahun pertengahan tahun 2014 ini tidak laku dijual ?.
Bapak-bapak di desa Bamadu mengharapkan hasil penelitian ini bisa mendorong dengan adanya peluang getah jelutung laku lagi di pasaran untuk menghidupkan warga desanya serta adanya terobosan alternatif penggunaan lain yang memakai bahan dasar jelutung.

Getah Jelutung Tidak Laku, Harga Getah Karet Turun Tajam, Harga Rotan Ikut-ikutan Turun drastis....

GETAH JELUTUNG
Sejak akhir april hingga awal bulan Mei 2014, harga getah jelutung masih dengan kisaran Rp 6.000,- namun sejak harga itu hingga kini (agustus 2014) tidak laku atau tidak bisa dijual lagi ke pengusaha atau pun langsung ke PT. Sampit. Menurut rumor antar pemantung (pencari getah jelutung di hutan) sudah biasa jika menghadapi hari nasional, harga getah jelutung bakal turun namun akan masih tetap laku dijual, namun yang terjadi sampai saat ini tidak laku dijual. Padahal stok getah jelutung dari para pemantung yang ada di kecamatan Pulau Hanaut dan kecamatan Seranau jika dikumpulkan bisa mencapai puluhan ton. Dan stok tersebut kini hanya disimpan di hutan dan di sungai depan rumah.
Menurut informasi dari PT. Sampit, permintaan akan getah jelutung dan getah karet sedang lesu dan harga dunia sedang menurun.

 Petani Jelutung membersihkan dan menyimpan getahnya diberbagai tempat
  
GETAH KARET
Hal serupa dengan yang diatas, penurunan harga getah karet sangat terasa oleh para petani karet seantero Kabupaten Kotawaringin Timur. Harga kini (agustus 2014) di kecamatan Seranau sebesar Rp 6.000/kg takolok/kepala, sedangkan di kecamatan Pulau Hanaut sebesar Rp 5.500/kg takolok/kepala. Dan informasi yang didapat dari lapangan, sebagian besar petani karet menghentikan sementara untuk memantat/menyadap karet dan mengalihkan pekerjaan menjadi buruh sawit, serabutan, pegawai toko dan istirahat di rumah sambil menunggu harga naik kembali.

 Pohon karet yang disadap dan pintu depan PT. Sampit

ROTAN
Rotan yang menjadi sumber pendapatan terbesar di kecamatan Seranau (Terantang, Terantang Hilir, Batuah, Mentaya Seberang) ikut turun harganya. Harga tanggal 20 agustus 2014 adalah sebesar Rp 180.000/kuintal basah. Yang menjadi masalah sekarang adalah rotan kering tidak bisa dijual kepada pedagang besar di Pelangsian dan Kota Besi. Bisa dijual akan tetapi uangnya menyusul kemudian jika si pengepul itu mampu menjual ke pasar.

Peruntih Rotan dan Rotan Kering Yang Belum Terjual

Dilihat dari segi pendapatan keluarga,  turunnya harga sudah pasti ikut menurunkan pendapatan sehari-hari para keluarga yang bersumber pada 3 (tiga) sumber daya alam ini.
Para petani hanya berharap, mudah-mudahan Pemerintahan Pusat dan Kabupaten bisa menemukan solusi yang tepat untuk keberlanjutan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. 

Rotan Dari Desa Terantang dan Terantang Hilir Harganya Anjlok Lagi....



Mata pencaharian sebagian besar masyarakat desa Terantang dan desa Terantang Hilir Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah adalah dikenal dengan 3 M yaitu Meruntih, Memagat, Memantat. 3 M ini merupakan sebuah gambaran tentang sumber daya alam yang tersedia dan dimiliki oleh masyarakat ke 2 desa tersebut dengan luasnya kebun rotan yang tegakannya dari pohon karet. Pohon rotan dianggap sebagai DEPOSITO (penghasilan masa depan secara periodik) dan pohon karet dianggap sebagai ATM (penghasilan sehari-hari)
Diskusi dengan Petani Karet dan Rotan
Namun, saat ini (Juni 2014) kedua komoditas ini mulai turun harganya secara signifikan dan berdampak pada turunnya nilai pendapatan sehari-hari masyarakat, dan para pengumpul kecil dan pengumpul besar pun ikut merasakan turunnya harga ini. 
Diskusi dengan Pengumpul Rotan di Gudang Rotan
Dampak susulan lain, setidaknya mulai terdengar keluhan-keluhan untuk menjual kebun sampai pada inisiatif untuk mengalihkan jenis tanaman.
Diskusi antara Pengumpul Besar rotan Desa Terantang dengan Prof. Chris Bennett dari University Of British Columbia dan Febiana Tedja, mahasiswi S2 di universitas tersebut, kisah naik dan turunnya rotan bisa bermula dari segi regulasi mengenai dunia rotan, peraturan dimulai dari terbitnya Permendag Nomor :  36/M-DAG/PER/8/2009 Tentang Ketentuan Ekspor Rotan yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu pada tanggal 11 Agustus 2009, dan pada periode selanjutnya Permendag diatas dicabut dan diganti dengan terbitnya Permendag Nomor : 35/M-DAG/PER/11/2011 Tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan RI, Gita Irawan Wiryawan pada tanggal 30 Nopember 2011 berbarengan dengan terbitnya Permendag Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 Tentang Pengangkutan Rotan Antar Pulau.
Diskusi dengan pengumpul rotan
Sejauh ini, yang dirasakan oleh masyarakat kedua desa diatas terhadap dampak turunnya harga rotan tidak seperih apa yang dikatakan pemerintah, yaitu rotan merupakan hasil hutan bukan kayu, padahal kedua desa ini membudidayakan rotan secara turun menurun. Dan lebih perih lagi mengapa pemerintah tidak mempersiapkan dahulu masyarakat petani rotan sebelum peraturan-peraturan mengenai rotan diterbitkan ?.
Diskusi dengan pengusaha rotan

Pantung/Jelutung, Getahnya (sementara) Tidak Laku Dijual

Terhitung sejak awal bulan Maret 2014 sampai bulan Juni 2014, para petani getah jelutung yang ada di Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Seranau menghentikan kegiatan pemanenan getah dari pohon pantung/jelutung. Penghentian tersebut dilakukan karena PT. SAMPIT untuk sementara tidak menerima lagi pembelian getah pantung/jelutung  dari petani di dua kecamatan tersebut.

Peralatan Petani Getah Pantung/Jelutung




Informasi yang diterima dari para petani getah pantung/jelutung dan pedagang besar di Sampit tentang getah pantung/jelutung tidak laku lagi adalah, bahwa kualitas getah pantung/jelutung rendah, permintaan dunia atas getah pantung menurun, dan PT SAMPIT sedang ada rencana restrukturisasi.
Getah Pantung Jadi yang untuk sementara tidak Laku di jual


Dampak dari tidak lakunya getah pantung ini, selain menurunkan pendapatan keluarga juga sebagian petani mengalihkan kehidupan mereka kembali pada pencarian kayu hutan di hutan kotawaringin timur dan katingan.

Kelompok Ibu-Ibu di Desa Bamadu, Pulau Hanaut, Kotim, Sedang Giat Memproduksi Keripik Pisang

Dalam 3 bulan berjalan di tahun 2014, kelompok ibu-ibu di desa Bamadu Kecamatan Pulau Hanaut, Kotim, berinisiatif sendiri untuk  membuat produk keripik pisang. Adapun tujuan memproduksi ini adalah mencoba menggali potensi yang ada diwilayahnya untuk alternatif peningkatan pendapatan keluarga. Pemasaran produk ini baru sampai Samuda, Sampit dan desa Terantang Kotim.

Proses Pengupasan Pisang
Proses Pengirisan Pisang
Proses Pengeringan dan Penggorengan
Proses Pembungkusan
Proses Penimbangan dan Merekat Kemasan
Keripik Pisang dalam Kemasan